????????????????????????????????????
Selain Kerinci dikenal dengan sejuta keindahan alamnya. Bagi saya Kerinci juga sangat terbuka tentang keberagaman kepercayaan masyarakatnya. Kerinci sendiri memiliki masyarakat yang datang dari banyak lintas agama, kepercayaan dan suku. Ini tentu menandakan bahwa semua masyarakat hampir menerima segala perbedaan. Yori Kayama dan beberapa penulis lainnya bekesempatan khusus untuk meliput salah seorang penghayat Sapta Darma di Kayu Aro. Beliau adalah Juadi, salah satu orang penghayat Kerokhanian Sapta Darma di wilayah Mekar Jaya yang masih menjalani setiap ibadahnya dengan tekun.
Sebelum kita membahas lebih jauh apa itu Kerokhanian Sapta Darma, tentu banyak dari kita yang bertanya apa itu Sapta Darma, dan kepercayaan yang bagaimana serta seperti apa. Nah, menurut banyak sumber Sapta Darma merupakan kepercayaan yang berangkat dari Aliran Kepercayaan Kejawen. Kejawen sendiri dalam bahasa jawa itu ditulis dengan Kajawèn; Carakan: ꦏꦗꦮꦺꦤ꧀; Pegon: كجَوَين yang memiliki arti sebuah pandangan hidup yang terutama dianut di pulau Jawa oleh suku Jawa dan suku bangsa lainnya yang menetap di Jawa. Kejawen merupakan kumpulan pandangan hidup dan filsafat sepanjang peradaban orang Jawa yang menjadi pengetahuan kolektif bersama, hal tersebut dapat dilihat dari ajarannya yang universal dan selalu melekat berdampingan dengan agama yang dianut pada zamannya. Kitab-kitab dan naskah kuno Kejawen tidak menegaskan ajarannya sebagai sebuah agama meskipun memiliki laku. Kejawen juga tidak dapat dilepaskan dari agama yang dianut karena filsafat Kejawen dilandaskan pada ajaran agama yang dianut oleh Filsuf Jawa.

Sejak dulu, orang Jawa mengakui keesaan Tuhan sehingga menjadi inti ajaran Kejawen, yaitu mengarahkan insan: Sangkan Paraning Dumadhi (lit. "Dari mana datang dan kembalinya hamba tuhan") dan membentuk insan se-iya se-kata dengan tuhannya: Manunggaling Kawula lan Gusthi (lit. "Bersatunya Hamba dan Tuhan"). Dari kemanunggalan itu, ajaran Kejawen memiliki misi sebagai berikut:
- Mamayu Hayuning Pribadhi (sebagai rahmat bagi diri pribadi)
- Mamayu Hayuning Kulawarga (sebagai rahmat bagi keluarga)
- Mamayu Hayuning Sasama (sebagai rahmat bagi sesama manusia)
- Mamayu Hayuning Bhawana (sebagai rahmat bagi alam semesta)
Kata “Kejawen” berasal dari kata "Jawa", yang artinya dalam bahasa Indonesia adalah "segala sesuatu yang berhubungan dengan adat dan kepercayaan Jawa (Kejawaan)". Penamaan "kejawen" bersifat umum, biasanya karena bahasa pengantar ibadahnya menggunakan bahasa Jawa. Dalam konteks umum, Kejawen sebagai filsafat yang memiliki ajaran-ajaran tertentu terutama dalam membangun Tata Krama (aturan berkehidupan yang mulia), Kejawen sebagai agama itu dikembangkan oleh pemeluk agama Kapitayan jadi sangat tidak arif jika mengatasnamakan Kejawen sebagai agama di mana semua agama yang dianut oleh orang Jawa memiliki sifat-sifat kejawaan yang kental.
Nah kembali ke aliran kepercayaan Sapta Darma, menurut Juadi, keyakinan ini sudah lama adanya. Jika Kejawen terdiri dari beberapa aliran lainnya, namun Sapta Darma berdiri sendiri atas keyakinan mereka. Meski beberapa ada banyak kesamaan, namun Sapta Darma agaknya lebih leluasa dan tidak terikat banyak aturan yang sebagaimana mestinya di Kejawen. Sapta Darma adalah proses menuju keheningan yang mendalam. Ketika kita sedang beribadah, harus fokus hingga kosong segala pikiran yang ada. Sapta Darma dan Kejawen sama-sama tidak memiliki Kitab Suci atau pedoman yang diagungkan lainnya.

Di Kayu Aro sendiri memang ada Keluarga Besar Kerokhanian Sapta Darma yang katanya adalah kepercayaan atas Tuhan Yang Maha Esa. Dalam aliran Sapta Darma kita diajari sujud secara Sapta Darma dan harus menjalankan Waras Sapta Darma yang artinya Sapta adalah tujuh dan Darma adalah kewajiban. Ada pun 7 kewajiban tersebut adalah
1.Setia tuhu kepada Allah Hyang Maha Agung: Maha Adil, Maha Rokhim, Maha Wasesa, Maha Langgeng
2.Dengan jujur dan suci hati harus menjalankan perundang-undangan Negaranya
3.Ikut serta menyingsingkan lengan baju menegakkan berdirinya Nusa dan Bangsanya
4.Menolong kepada siapa saja bila perlu tanpa mengharapkan sesuatu balasan apa pun melainkan berdasarkan rasa cinta kasih
5.Berani hidup atas kepercayaan diri sendiri
6.Sikapnya dalam hidup bermasyarakat harus susuila dan halus budi pekerti selalu penunjuk jalan yang mengandung jasa serta memuaskan
7.Yakin bahwa keadaan dunia itu tidak ada yang abadi melainkan selalu berubah-rubah.
Dalam Sapta Darma Tuhan yang Esa itu adalah Allah, dan Allah juga tidak memiliki wujudnya dan bentuk Allah itu tidak bisa diseperti apakan, sebab itu sudah melampui batas manusia. Di Kayu Aro sendiri dulunya penghayat Sapta Darma ini sangat banyak, namun seiring jalannya waktu itu tidak diketahui lagi. Dan menurut data, Sapta Darma sudah ada sejak tahun 60 an di Kayu Aro, dan barulah di tahun 2000 an organisasi itu terbentuk dan wujudnya mulai tampak oleh masyarakat. Juadi sendiri bergabung di Kerokhanian Sapta Darma pada tahun 1997, yang berawal dari mengantar surat di wilayah Kersik Tua yang dititipkan kepada dirinya. Isi surat tersebut menampakkan logo Kerokhanian Sapta Darma, karena merasa penasaran, beliau akhirnya bertanya tentang apa itu Sapta Darma kepada orang terdahulunya, dan setelah paham, Pak De Juadi akhirnya memutuskan untuk bergabung.
Dalam ajaran Sapta Darma tidak ada pengajian khusus atau ritual yang mengharuskan penghayatnya untuk berkumpul bersama. Bagi Juadi, setelah berkenalan dan menghayati sepnuh hati Sapta Darma lebih merasakan sebuah ketenangan batin akan dunia yang ia jalani. Organisasi penghayat Sapta sendiri memiliki simbol identik yang mengambarkan simbul pribadi manusia, seperti gambar di bawah ini.
Ada pun pemaknaan unik dari simbul pribadi manusia yang digambarkan dalam bentuk lambang sedemikian rupa tentu saja memiliki artinya tersendiri. Seperti warna putih yang menujukkan bahwa asal manusia dari barang yang suci/bersih baik luar maupun dalamnya. Serta garis kuning emas yang ada di tepi segitiga mempunyai arti bahwa ketiganya asal manusia tersebut mengandung sinar cahaya Allah. Sementara segitiga sama sisi berwarna putih dengan tepi kuning emas tertutup oleh lingkaran hitam, merah, kuning dan gambar Semar membentuk tiga segitiga kecil yang sama dan sebangun, masing-masing segitiga mempunyai 3 sudut berarti 3x3 = 9 lobang atau (Jawa=babahan hawa sanga) ialah mata dua (2), mulut satu (1), telinga dua (2), hidung dua (2), kemaluan satu (1) dan pelepasan satu (1).
Bentuk segi empat belah ketupat menggambarkan asalmula terjadinya manusia, yaitu : Sudut Puncak : Sinar Cahaya Allah, Sudut Bawah : sari-sari bumi, dan Sudut kanan dan kiri : peratarannya ialah ayah dan ibu. Jika lihat dari penjelasan gambar dan makna yang ada pada Sapta Darma, bisa kita simpulkan bnahwa aliran Sapta Darma berangkat dari hal-hal yang berada dalam diri manusia itu sendiri dan hubungan sesama menuju satu kepercayaan terhadap Tuhan yang Esa.
Jika Kejawen sudah ada sejak tahun 1916 di Hindia Belanda yang kita sebut Indonesia saat ini. Maka Sapta Darma awalnya itu ada pada tahun 1952 yang wahyu pertamanya turun melalui Bapa Penuntun Agung Sri Gutama yang memiliki nama asli Hardjosapoero dengan Ibu Tuntunan Agung Sri Pawenang yang bernama Soewartini Martodiharjo. Wahyu pertama kali turun dini hari Jumat Wage atau tanggal 27 Desember 1952 di rumahnya di Kampung Koplakan, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Sementara menurut data-data Hardjosapoero sendiri lahir di Desa Semanding, Kediri, Jawa Tumur. Ia merupakan seorang tukang cukur yang menerima mandat mengenai aliran kerokhanian Sapta Darma.
Jika kita pahami dengan sekilas, memang aliran Sapta Darma memiliki makna yang sederhana, tetapi menurut saya maknya itu sangatlah luas, karena meliputi banyak hal tentang segala aspek kehidupan di dunia manusia, roh, dan jin. Inti sari dari ajaran ini bersumber pada sujud, Wewerah Tujuh, dan sesanti. Jika dalam agama-agama lainnya kita memanjatkan doa-doa kepada orang yang kita muliakan, namun di Sapta Darma sendiri tidak ada hal-hal seperti itu untuk merapalkan doa-doa khusus untuk penerima wahyu pertama Hardjosapoero tersebut.
Dalam Sapta Darma tidak menganjurkan memakai jimat-jimat dan lain halnya. Dalam beribadah pun Sapta Darma tidak menganggu atau membuat masyarakat sekitar gaduh. Karena memang pelakasaannya yang tenang dan waktu yang hanya dilakukan di rumah, tidak akan ada yang merasa terusik. Berikut gambar yang memperlihatkan cara beribadah penghayat Sapta Darma.
Menurut buku kecil Wewarah Kerokhanian Sapta Darma, tidak ada bacaan dalam beribadah kecuali dalam keadaan sujud. Bacaan dalam sujud berbunyi seperti ini ‘Hyang Maha Sujud Hyang Maha Kuasa’, dibaca 3 kali. Selesai mengucapkan, kepala diangkat perlahan-lahan, hingga badan dalam sikap duduk duduk tegak lagi seperti semula. Sujud sendiri merupakan ritual ibadah yang dilakukan minimal sehari sekali, selebihnya dianggap sebagai keutamaan.
Dalam aliran penghayat Sapta Darma, mereka juga memiliki rumah ibadah, yang diberi nama Sanggar yang di dalamnya dipimpin oleh tuntunan yang bertanggung jawab membina kerokhanian para warga di Sanggar tersebut. Sanggar pertama yang terletak di Pare, Kediri ini disebut dengan nama Sanggar Agung Candi Busana. Di Kayu Aro sendiri rumah ibadah ini juga sudah berdiri, namun untuk saat sekarang sudah tidak aktif lagi, karena pemilik kunci tidak diketahui sampai sekarang, dan tidak adalagi orang yang dianggap sebagai tuntunan.
Menurut pengakuan Juadi sendiri, bahwa meskipun semua masyarakat sudah menerima segala perbedaan, namun tetap saja pemerintah belum sepenuhnya memberikan itu kepada para penghayat Sapta Darma. Ini terbukti bahwa dalam pengurusan identitas kependudukan, jika agama itu dalam KTP Cuma ada 5, dan yang ke 6 adalah ditulis dalam bentuk Dll untuk aliran kepercayaan. Namun ketika dulu sudah mengisi KTP dan membuat agamanya ada di nomor 6, namun hasil yang keluar tetap sebagai pemeluk Islam. Tetapi hal demikian tidaklah jadi masalah, seperti yang kita ketahui bahwa keyakinan itu adanya di dalam hati bukan sebatas identitas jati diri.
Ada yang unik dalam keyakinan Sapta Darma, dimana mereka sebagai pemeluk keyakinan, tidak memaksakan untuk anggota keluarganya harus ikut dengan keyakinan yang sama. Dalam ajaran mereka sendiri, tidak boleh mengajak dan tidak juga boleh melarang untuk orang belajar lebih dalam. Tujuan hidup bagi penghayat Sapta Darma adalah ketentraman lahir dan batin. Dan tidak ada doa doa khusus yang dilakukan setelah ibadah selesai, mereka beranggapan ketika sudah dalam keadaan khusuk dan hening, maka permintaan dalam hidup akan otomatis terlaksana dengan sendirinya. Dalam Sapta Darma itu sendiri memiliki sebuah pribahasa yang mengatakan ‘galilah rasa yang meliputi seluruh tubuhmu atau kepribadianmu yang asli’
Besar harapan para penghayat Sapta Darma, bahwa kedepannya pemerintah harus lebih mengkaji lagi nilai-nilai dalam ajaran Sapta Darma, bahwa apa yang mereka yakini tidaklah merusak nor-norma dalam berkehidupan masyarakat. Tidak adanya ajaran-ajaran yang merusak sekaligus bertentangan dengan peraturan-peraturan yang ada di dalam Negara. Semoga mereka mendapatkan jalan terang untuk hal yang terus mereka yakini sampai sekarang.
Penulis : Yori Kayama
![]()
